Internet of Things atau IoT merupakan salah satu teknologi yang semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Perangkat rumah, kendaraan, mesin industri, kamera keamanan, wearable device, hingga sistem pertanian kini dapat terhubung ke jaringan untuk mengumpulkan, mengirimkan, dan memproses data.
Namun, apa itu Internet of Things sebenarnya?
Secara sederhana, Internet of Things adalah konsep yang memungkinkan berbagai benda atau perangkat fisik terhubung ke jaringan sehingga dapat mengumpulkan data, bertukar informasi, dipantau, dan dalam kondisi tertentu dikendalikan secara otomatis.
Contohnya dapat ditemukan dalam hal-hal yang terlihat sederhana. Smartwatch dapat mengukur aktivitas pengguna dan mengirimkan data ke smartphone. Sensor suhu dapat mengirimkan kondisi ruangan ke dashboard. Kamera keamanan dapat mengirimkan notifikasi ketika mendeteksi gerakan. Dalam industri, sensor pada mesin dapat membantu mendeteksi perubahan kondisi sebelum terjadi kerusakan.
Jadi, IoT bukan hanya tentang membuat perangkat terhubung ke internet. Di balik sebuah sistem IoT terdapat kombinasi sensor, hardware, software, jaringan, protokol komunikasi, cloud, database, aplikasi, dan sistem keamanan.
Artikel ini merupakan Level 1 dari Kurikulum Internet of Things Raja Putra Media. Pada level ini kita akan membangun fondasi sebelum masuk ke komponen, hardware, programming, protokol, cloud, security, dan teknologi IoT tingkat lanjut.
Apa Itu Internet of Things (IoT)?
Internet of Things adalah konsep yang menghubungkan perangkat fisik ke jaringan sehingga perangkat tersebut dapat mengumpulkan, bertukar, dan memanfaatkan data untuk melakukan monitoring, analisis, atau tindakan tertentu.
Perangkat yang terhubung dalam ekosistem IoT biasanya memiliki kemampuan untuk:
- mendeteksi kondisi tertentu melalui sensor;
- memproses data;
- berkomunikasi melalui jaringan;
- mengirimkan data ke sistem lain;
- menerima perintah;
- melakukan tindakan melalui actuator;
- dan dalam sistem tertentu mengambil keputusan secara otomatis.
Perangkat IoT tidak harus selalu terhubung langsung ke internet. Dalam arsitektur tertentu, perangkat dapat berkomunikasi dengan gateway terlebih dahulu sebelum data diteruskan ke server atau cloud.
Contoh sederhana adalah sistem monitoring suhu.
Sebuah sensor membaca suhu ruangan. Mikrokontroler memproses hasil pembacaan tersebut, kemudian mengirimkannya melalui Wi-Fi. Data selanjutnya dapat disimpan pada server atau cloud dan ditampilkan pada dashboard.
Jika suhu melewati batas tertentu, sistem bahkan dapat memberikan notifikasi atau mengaktifkan perangkat pendingin.
Dari contoh tersebut terlihat bahwa IoT sebenarnya merupakan ekosistem teknologi, bukan sebuah perangkat tunggal.
Apa Kepanjangan IoT?
IoT adalah singkatan dari Internet of Things, yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai Internet untuk Segala atau Internet of Things tetap digunakan sebagai istilah teknis yang umum.
Istilah tersebut menggambarkan gagasan bahwa berbagai objek fisik dapat menjadi bagian dari jaringan digital.
Jika internet pada awal perkembangannya terutama digunakan untuk menghubungkan manusia dengan informasi dan layanan digital, IoT memperluas konsep tersebut dengan menghubungkan benda dan perangkat fisik.
Perangkat tersebut kemudian dapat menghasilkan data dari dunia nyata dan mengirimkannya ke sistem digital.
Bagaimana Cara Kerja Internet of Things?
Untuk memahami cara kerja IoT, bayangkan sebuah sistem monitoring kelembapan tanah pada lahan pertanian.
Sensor kelembapan ditempatkan di tanah. Sensor tersebut membaca kondisi tanah secara berkala. Data kemudian diproses oleh perangkat seperti mikrokontroler dan dikirim melalui jaringan.
Setelah sampai pada sistem tujuan, data dapat disimpan, dianalisis, dan ditampilkan pada dashboard.
Secara sederhana, alurnya dapat digambarkan seperti ini:
Sensor → Device → Network → Gateway/Cloud → Database → Application → Action
Setiap bagian memiliki fungsi berbeda.
1. Sensor Mengumpulkan Data
Sensor merupakan bagian yang berinteraksi dengan kondisi fisik di dunia nyata.
Contohnya:
- sensor suhu membaca temperatur;
- sensor kelembapan membaca kadar kelembapan;
- sensor cahaya mendeteksi intensitas cahaya;
- sensor gerak mendeteksi pergerakan;
- sensor tekanan mengukur tekanan;
- sensor gas mendeteksi konsentrasi gas tertentu.
Data yang dihasilkan sensor menjadi input bagi sistem IoT.
2. Device Memproses Data
Data dari sensor biasanya diterima oleh perangkat seperti mikrokontroler.
Contoh platform yang sering digunakan dalam pembelajaran dan pengembangan IoT adalah:
- Arduino;
- ESP8266;
- ESP32;
- Raspberry Pi;
- berbagai development board lainnya.
Perangkat ini dapat membaca data sensor, melakukan pemrosesan sederhana, dan menyiapkan data untuk dikirim melalui jaringan.
3. Data Dikirim Melalui Network
Setelah diproses, data perlu dikirimkan ke sistem lain.
Teknologi konektivitas yang dapat digunakan sangat beragam, tergantung kebutuhan aplikasi, antara lain:
- Wi-Fi;
- Bluetooth;
- Zigbee;
- LoRaWAN;
- jaringan seluler;
- NB-IoT;
- LTE-M;
- dan teknologi komunikasi lainnya.
Pemilihan konektivitas bergantung pada faktor seperti jarak, konsumsi energi, bandwidth, biaya, dan kondisi lingkungan.
4. Gateway atau Cloud Menerima Data
Dalam sistem tertentu, perangkat IoT mengirimkan data langsung ke cloud.
Pada sistem lain, data terlebih dahulu melewati IoT gateway.
Gateway dapat berfungsi sebagai penghubung antara perangkat lokal dengan jaringan atau sistem yang lebih besar.
Setelah data mencapai server atau cloud, sistem dapat melakukan pemrosesan lebih lanjut.
5. Data Disimpan dan Dianalisis
Data IoT sering kali perlu disimpan agar dapat digunakan untuk monitoring maupun analisis historis.
Misalnya, sistem pertanian dapat menyimpan data kelembapan tanah selama beberapa bulan.
Dari data tersebut, pengguna dapat melihat:
- perubahan kelembapan;
- pola harian;
- kondisi ekstrem;
- hubungan antara cuaca dan kondisi tanah;
- kebutuhan penyiraman.
Inilah salah satu alasan mengapa database dan data analytics menjadi bagian penting dalam IoT.
6. Application Menampilkan Informasi
Data yang telah diproses dapat ditampilkan melalui:
- dashboard web;
- aplikasi smartphone;
- panel monitoring;
- notifikasi;
- sistem enterprise;
- atau aplikasi lainnya.
Pengguna tidak perlu membaca data mentah dari sensor. Sistem dapat mengubahnya menjadi informasi yang lebih mudah dipahami.
7. Sistem Mengambil Tindakan
Tahap terakhir tidak selalu berupa tampilan informasi.
Sistem IoT juga dapat melakukan tindakan otomatis.
Misalnya:
Sensor kelembapan → membaca tanah kering → sistem memproses data → relay aktif → pompa menyala.
Dalam contoh tersebut, IoT tidak hanya melakukan monitoring, tetapi juga melakukan automation.
Komponen Utama Internet of Things
Sebuah sistem IoT dapat memiliki arsitektur yang sangat sederhana maupun kompleks. Namun, beberapa komponen umum biasanya muncul dalam sistem tersebut.
1. IoT Device
IoT device adalah perangkat fisik yang menjadi bagian dari sistem.
Contohnya:
- smart bulb;
- smartwatch;
- kamera keamanan;
- sensor industri;
- smart meter;
- perangkat monitoring kesehatan;
- perangkat pertanian.
Perangkat tersebut dapat memiliki sensor, processor, konektivitas, dan komponen lainnya.
2. Sensor
Sensor berfungsi mengubah kondisi fisik menjadi data yang dapat diproses sistem.
Tanpa sensor, banyak sistem IoT tidak dapat memperoleh informasi mengenai kondisi dunia nyata.
3. Actuator
Jika sensor berfungsi sebagai input, actuator dapat berfungsi sebagai output.
Actuator memungkinkan sistem melakukan tindakan fisik.
Contohnya:
- mengaktifkan motor;
- membuka atau menutup valve;
- menyalakan relay;
- mengaktifkan pompa;
- menggerakkan servo.
4. Mikrokontroler atau Processor
Mikrokontroler berfungsi menjalankan program dan memproses data yang diterima dari sensor.
Pada proyek IoT sederhana, ESP32 merupakan salah satu contoh platform yang banyak digunakan.
5. Network
Network memungkinkan perangkat berkomunikasi.
Tanpa konektivitas yang sesuai, perangkat tidak dapat bertukar data dengan sistem lainnya.
6. Gateway
Gateway dapat menjadi penghubung antara perangkat IoT dengan jaringan atau sistem backend.
Dalam sistem dengan banyak perangkat atau protokol berbeda, gateway dapat memiliki peran yang sangat penting.
7. Cloud atau Server
Cloud dan server digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti:
- menerima data;
- menyimpan data;
- memproses data;
- menjalankan aplikasi;
- mengelola perangkat;
- menyediakan layanan bagi pengguna.
Tidak semua IoT harus menggunakan public cloud. Sistem tertentu dapat menggunakan server lokal, edge computing, atau kombinasi beberapa pendekatan.
8. Database
Database digunakan untuk menyimpan data yang dihasilkan perangkat.
Untuk sistem sensor yang menghasilkan data secara berkala, penyimpanan data berdasarkan waktu atau time-series data dapat menjadi sangat relevan.
9. Application
Application menjadi bagian yang berinteraksi langsung dengan pengguna.
Melalui aplikasi atau dashboard, pengguna dapat memantau kondisi perangkat, melihat data, menerima notifikasi, atau memberikan perintah.
Apa Perbedaan IoT dengan Perangkat Elektronik Biasa?
Tidak semua perangkat elektronik adalah IoT.
Sebuah kipas angin biasa, misalnya, dapat bekerja hanya dengan tombol fisik. Perangkat tersebut tidak harus mengirim data atau berkomunikasi dengan perangkat lain.
Sementara itu, smart fan yang terhubung ke jaringan dapat:
- dikendalikan melalui smartphone;
- mengirimkan status;
- menerima perintah melalui jaringan;
- terintegrasi dengan sistem smart home;
- dan dalam kondisi tertentu bekerja berdasarkan sensor atau automation.
Perbedaannya bukan semata-mata karena perangkat tersebut menggunakan listrik atau memiliki software.
Yang membedakan adalah adanya konektivitas, pertukaran data, kemampuan monitoring atau kontrol, dan integrasi dengan sistem digital lainnya.
Contoh Internet of Things dalam Kehidupan Sehari-Hari
IoT sebenarnya sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa contohnya.
1. Smart Home
Smart home merupakan salah satu contoh paling mudah untuk memahami IoT.
Perangkat yang dapat terhubung meliputi:
- smart bulb;
- smart plug;
- smart camera;
- smart lock;
- smart thermostat;
- sensor pintu;
- sensor gerak.
Pengguna dapat memantau atau mengendalikan perangkat melalui aplikasi.
Misalnya, lampu dapat dinyalakan dari smartphone atau kamera mengirimkan notifikasi ketika mendeteksi aktivitas tertentu.
2. Smartwatch dan Wearable Device
Smartwatch dan wearable device dapat mengumpulkan berbagai data dari pengguna melalui sensor.
Contohnya:
- jumlah langkah;
- aktivitas fisik;
- detak jantung;
- pola aktivitas;
- lokasi.
Data kemudian dapat disinkronkan dengan smartphone atau layanan digital untuk ditampilkan dan dianalisis.
3. Smart Agriculture
Dalam pertanian, IoT dapat digunakan untuk monitoring kondisi lahan.
Sensor dapat digunakan untuk mengukur:
- kelembapan tanah;
- temperatur;
- kelembapan udara;
- intensitas cahaya;
- kondisi lingkungan lainnya.
Data tersebut dapat membantu petani menentukan kapan tanaman membutuhkan air atau tindakan tertentu.
Sistem yang lebih maju bahkan dapat mengintegrasikan sensor, konektivitas, cloud, analytics, dan automation.
4. Smart City
Konsep smart city menggunakan teknologi digital dan IoT untuk membantu mengelola berbagai layanan perkotaan.
Contohnya:
- smart lighting;
- monitoring kualitas udara;
- smart parking;
- traffic monitoring;
- waste management;
- monitoring penggunaan energi.
Tujuannya bukan sekadar memasang sensor sebanyak mungkin, tetapi menggunakan data untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan.
5. Healthcare IoT
IoT juga dapat digunakan dalam sektor kesehatan untuk berbagai kebutuhan monitoring dan pengelolaan perangkat.
Contohnya termasuk perangkat wearable, remote monitoring, dan perangkat medis yang memiliki konektivitas.
Data yang dihasilkan dapat membantu tenaga profesional memperoleh informasi secara lebih cepat, sesuai dengan fungsi dan regulasi sistem yang digunakan.
6. Connected Vehicle
Kendaraan modern semakin banyak menggunakan sistem yang terhubung.
Data dari kendaraan dapat digunakan untuk:
- monitoring kendaraan;
- navigasi;
- fleet management;
- maintenance;
- telematics;
- berbagai layanan connected vehicle.
Dalam skala besar, konsep ini dapat terhubung dengan infrastruktur kota dan sistem transportasi.
Contoh IoT di Dunia Industri
Penerapan IoT tidak berhenti pada perangkat konsumen.
Dalam industri, konsep ini berkembang menjadi Industrial Internet of Things atau IIoT.
Misalnya, sebuah pabrik memiliki mesin produksi yang dilengkapi sensor.
Sensor dapat mengumpulkan informasi seperti:
- temperatur mesin;
- getaran;
- tekanan;
- kecepatan;
- konsumsi energi;
- status operasional.
Data tersebut kemudian dikirimkan ke sistem monitoring.
Jika ditemukan pola yang tidak normal, sistem dapat memberikan peringatan kepada operator.
Dalam implementasi yang lebih lanjut, data historis dapat digunakan untuk predictive maintenance, yaitu membantu memperkirakan potensi masalah sebelum kerusakan mesin menyebabkan downtime.
Pembahasan Industrial IoT akan menjadi bagian dari Level 16 dalam kurikulum ini.
Apa Manfaat Internet of Things?
Manfaat IoT sangat bergantung pada bagaimana sistem tersebut dirancang dan digunakan.
Namun, beberapa manfaat umum meliputi berikut.
1. Monitoring Secara Real-Time
IoT memungkinkan kondisi perangkat atau lingkungan dipantau dari jarak jauh.
Pengguna tidak selalu perlu berada di lokasi fisik untuk mengetahui kondisi sistem.
2. Otomatisasi
IoT dapat menghubungkan sensor dengan actuator sehingga sistem dapat melakukan tindakan berdasarkan kondisi tertentu.
Contoh sederhana:
Sensor mendeteksi suhu tinggi → sistem memproses data → pendingin diaktifkan.
3. Efisiensi Operasional
Data dari perangkat dapat membantu organisasi mengetahui bagaimana aset dan sumber daya digunakan.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk menemukan pemborosan dan meningkatkan efisiensi.
4. Pengambilan Keputusan Berbasis Data
Daripada hanya mengandalkan perkiraan, pengguna dapat menggunakan data historis dan real-time sebagai dasar pengambilan keputusan.
5. Predictive Maintenance
Dalam industri, data sensor dapat digunakan untuk mengidentifikasi perubahan kondisi mesin sehingga potensi masalah dapat ditangani lebih awal.
6. Pengalaman Pengguna yang Lebih Baik
Dalam consumer IoT, konektivitas dapat memberikan kontrol dan layanan yang lebih nyaman bagi pengguna.
Apakah IoT Harus Selalu Terhubung ke Internet?
Tidak selalu.
Nama Internet of Things memang mengandung kata internet, tetapi arsitektur IoT dapat menggunakan berbagai bentuk komunikasi dan pemrosesan.
Sebuah perangkat dapat berkomunikasi dengan perangkat lain melalui jaringan lokal. Sistem juga dapat menggunakan gateway atau edge device untuk melakukan pemrosesan tanpa mengirim seluruh data ke cloud.
Dalam beberapa aplikasi, edge computing bahkan menjadi penting karena pemrosesan di dekat sumber data dapat membantu mengurangi latency dan ketergantungan pada koneksi cloud.
Jadi, konsep utama IoT adalah konektivitas dan pertukaran data antarperangkat atau sistem, bukan sekadar memastikan setiap perangkat harus berkomunikasi langsung dengan internet publik.
Apa Tantangan Internet of Things?
Meskipun menawarkan banyak manfaat, IoT juga memiliki berbagai tantangan.
1. Keamanan
Semakin banyak perangkat yang terhubung berarti semakin banyak pula titik yang harus diamankan.
Masalah dapat muncul pada:
- autentikasi;
- firmware;
- komunikasi;
- konfigurasi perangkat;
- cloud;
- aplikasi;
- pengelolaan identitas perangkat.
Karena itu, IoT security merupakan bagian penting dari IoT engineering.
2. Privasi Data
Perangkat IoT dapat mengumpulkan data dalam jumlah besar. Pada aplikasi tertentu, data tersebut dapat berkaitan dengan aktivitas pengguna, lokasi, atau kondisi lingkungan.
Pengelolaan data harus mempertimbangkan privasi dan kebutuhan perlindungan data yang berlaku.
3. Skalabilitas
Mengelola satu perangkat relatif sederhana.
Mengelola 10.000 atau bahkan jutaan perangkat merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks.
Sistem perlu menangani:
- device provisioning;
- monitoring;
- firmware update;
- network traffic;
- data volume;
- authentication;
- device lifecycle.
4. Interoperabilitas
Perangkat dari berbagai vendor dapat menggunakan teknologi, protokol, dan format data yang berbeda.
Integrasi menjadi salah satu tantangan penting dalam ekosistem IoT.
5. Konektivitas
Tidak semua perangkat berada di lokasi dengan koneksi jaringan yang stabil.
Sistem IoT perlu mempertimbangkan kondisi offline, bandwidth, latency, jangkauan, dan konsumsi energi.
Apakah IoT Sulit Dipelajari?
Bagi pemula, IoT mungkin terlihat cukup rumit karena menggabungkan beberapa bidang teknologi sekaligus.
Namun, Anda tidak harus mempelajari semuanya dalam satu waktu.
Cara yang lebih efektif adalah membangun kemampuan secara bertahap:
Konsep IoT → Komponen → Hardware → Sensor → Programming → Networking → Protocol → Cloud → Data → Security → Advanced IoT
Inilah alasan artikel ini ditempatkan sebagai Level 1.
Pada tahap berikutnya, Anda akan mulai memecah sistem IoT menjadi bagian-bagian yang lebih mudah dipahami.
Jika Anda belum pernah membuat proyek IoT sebelumnya, tidak perlu langsung mempelajari cloud architecture atau AIoT.
Mulailah dengan memahami bagaimana sensor, device, network, dan data bekerja.
Apa yang Harus Dipelajari Setelah Memahami IoT?
Setelah memahami pengertian dan konsep dasar IoT, langkah berikutnya adalah mempelajari komponen yang membentuk sistem IoT.
Pada Level 2, kita akan membahas sensor, actuator, mikrokontroler, gateway, network, cloud, database, dan application secara lebih mendalam.
Urutannya penting karena komponen-komponen tersebut nantinya akan membentuk gambaran lengkap tentang bagaimana sebuah sistem IoT dirancang.
Roadmap pembelajaran selanjutnya adalah:
- Level 2 — Komponen IoT
- Level 3 — Cara Kerja IoT
- Level 4 — Jenis-Jenis IoT
- Level 5 — Teknologi dan Koneksi IoT
- Level 6 — Mikrokontroler IoT
- Level 7 — Sensor dan Actuator
- Level 8 — Pemrograman IoT
- Level 9 — Protokol IoT
- Level 10 — Project IoT
- Level 11 — Arsitektur IoT
- Level 12 — Platform dan Cloud IoT
- Level 13 — Database IoT
- Level 14 — IoT Security
- Level 15 — MQTT
- Level 16 — Industrial IoT
- Level 17 — AIoT
- Level 18 — IoT Scalability
- Level 19 — Enterprise IoT
- Level 20 — Masa Depan IoT
FAQ tentang Internet of Things
Apa itu Internet of Things dengan bahasa sederhana?
Internet of Things adalah konsep yang memungkinkan perangkat fisik terhubung dan bertukar data melalui jaringan. Perangkat tersebut dapat menggunakan sensor untuk mengumpulkan informasi, mengirimkan data, menerima perintah, atau melakukan tindakan tertentu secara otomatis.
Apa contoh IoT yang paling sederhana?
Contoh sederhana adalah lampu yang dapat dikendalikan melalui smartphone. Contoh lainnya adalah sensor suhu yang mengirimkan data ke dashboard melalui jaringan.
Apa saja perangkat IoT?
Perangkat IoT dapat berupa smart bulb, smartwatch, kamera keamanan, smart lock, sensor, smart meter, perangkat industri, kendaraan terhubung, dan berbagai perangkat lain yang memiliki kemampuan sensing, processing, connectivity, atau control.
Apakah smartphone termasuk IoT?
Smartphone sendiri tidak selalu dikategorikan sebagai perangkat IoT. Namun, smartphone sering menjadi bagian dari ekosistem IoT sebagai perangkat untuk monitoring, konfigurasi, atau mengendalikan perangkat IoT lainnya.
Apa hubungan sensor dengan IoT?
Sensor berfungsi mengumpulkan data dari dunia fisik. Data tersebut kemudian dapat diproses dan dikirimkan melalui jaringan sehingga menjadi bagian dari sistem IoT.
Apakah IoT sama dengan smart home?
Tidak. Smart home merupakan salah satu contoh penerapan IoT. IoT memiliki cakupan yang jauh lebih luas, termasuk industri, pertanian, kesehatan, transportasi, energi, dan smart city.
Apa perbedaan IoT dan AIoT?
IoT berfokus pada konektivitas perangkat, pengumpulan data, komunikasi, monitoring, dan kontrol. AIoT menambahkan artificial intelligence sehingga data dari perangkat dapat digunakan untuk analisis, prediksi, klasifikasi, atau pengambilan keputusan yang lebih cerdas.
Apakah IoT membutuhkan internet?
Tidak selalu. Perangkat dapat menggunakan jaringan lokal, gateway, edge computing, atau berbagai bentuk komunikasi lainnya. Namun, banyak sistem IoT menggunakan internet atau cloud untuk konektivitas dan pengelolaan data dari jarak jauh.
Kesimpulan
Internet of Things adalah konsep yang menghubungkan perangkat fisik dengan jaringan sehingga perangkat tersebut dapat mengumpulkan, bertukar, memproses, dan menggunakan data untuk monitoring maupun tindakan tertentu.
IoT dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari smart home, wearable device, smart agriculture, healthcare, connected vehicle, smart city, hingga Industrial IoT.
Sebuah sistem IoT biasanya melibatkan berbagai komponen, seperti sensor, actuator, mikrokontroler, network, gateway, cloud, database, dan application.
Cara kerjanya dapat disederhanakan menjadi:
Sensor → Device → Network → Data → Application → Action
Namun, IoT modern jauh lebih kompleks daripada sekadar menghubungkan perangkat ke internet. Ketika sistem berkembang, kita perlu mempertimbangkan cloud computing, data management, cybersecurity, scalability, edge computing, artificial intelligence, dan enterprise architecture.
Itulah mengapa mempelajari IoT membutuhkan roadmap yang terstruktur, Lanjut ke Level 2 — Komponen IoT: Sensor, Actuator, Device, Gateway, Network, dan Cloud.
Sebagai bagian dari Kurikulum Internet of Things, Level 1 memberikan fondasi mengenai apa itu IoT dan bagaimana konsep dasarnya bekerja. Setelah memahami fondasi tersebut, pembelajaran berikutnya akan masuk lebih dalam ke bagian-bagian yang membentuk sebuah sistem IoT.
Tinggalkan komentar